Mitos-mitos Umum yang Berkaitan dengan DevOps

Dikutip dan diterjemahkan dari “What is DevOps?", DevOps dapat didefinisikan sebagai kombinasi dari cultural philosophies, practices dan tools untuk meningkatkan kemampuan sebuah organisasi dalam melakukan delivery aplikasi dan services dalam kecepatan yang tinggi (high velocity) — melakukan pengembangkan dan peningkatan produk dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan menggunakan pengembangan piranti lunak dan proses manajemen infrastruktur secara tradisional.

Pada tulisan ini, kita akan membahas beberapa mitos-mitos umum yang sering muncul berkaitan dengan DevOps, menurut The DevOps Handbook.

Mitos 1 — DevOps hanya untuk Startups

DevOps memang dipelopori oleh internet “unicorn” berskala besar, seperti Google, Amazon, Netflix dan Etsy. Organisasi-organisasi ini berhasil menjadi pionir menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari sebuah “horse” organization yang tradisional. Apa saja masalah-masalah tersebut?

Namun demikian, DevOps dapat diadopsi oleh organisasi apapun, tidak hanya startups.

Mitos 2 — DevOps akan Menggantikan Agile

Mitos 3 — DevOps tidak dapat Dijalankan Bersamaan dengan ITIL

Banyak yang mengamati bahwa DevOps merupakan “serangan balik” ke ITIL atau ITSM (IT Service Management), yang sudah dimulai sejak 1989. ITIL telah secara luas mempengaruhi beberapa generasi IT Operations, dan merupakan library of practices yang terus berkembang, dengan tujuan untuk menyusun practices yang mendukung world-class IT operations.

DevOps practices kompatibel dengan ITIL processes. Namun, untuk mencapai lead time yang lebih singkat, dan frekuensi deployment yang lebih tinggi, banyak area pada ITIL processes yang diotomatisasi, sehingga menyelesaikan banyak masalah-masalah terkait configuration dan release management.

DevOps memerlukan fast detection and recovery ketika terjadi service incidents. Oleh karena itu, ITIL disciplines terkait service design, incident, dan problem management masih sangat relevan dengan DevOps.

Mitos 4 — DevOps tidak dapat Dijalankan Bersamaan dengan Information Security and Compliance

Tidak adanya kontrol secara tradisional (pembagian tugas, perubahan proses approval, melakukan review security secara manual di akhir proyek) berpotensi mengganggu information security dan compliance.

Namun, hal ini tidak dapat diartikan sebagai tidak adanya kontrol yang efektif terhadap organisasi yang mengadopsi DevOps. Jika sebuah organisasi mengadopsi DevOps, aktivitas security dan compliance tidak dilakukan di akhir proyek, namun hal-hal tersebut dilakukan secara terintegrasi ke dalam setiap tahapan pekerjaan sehari-hari dalam SDLC, untuk menghasilkan kualitas, security dan compliance yang lebih baik.

Mitos 5 — DevOps Menghilangkan IT Operations, atau “NoOps”

Banyak yang salah menafsirkan bahwa DevOps akan menghapus fungsi IT Operations. Namun, hal ini jarang terjadi. Walaupun fungsi IT Operations akan berubah, tetapi IT Operations tetaplah penting.

Alih-alih IT Operations melakukan pekerjaan secara manual (biasanya berdasarkan tiket), DevOps meningkatkan produktivitas developer dengan melalui API dan self-service platforms untuk melakukan manajemen environments, melalukan testing dan deployment code, melakukan monitoring dan melihat telemetery, dll.

Dengan mengadopsi DevOps, maka fungsi IT Operations menjadi mirip seperti Development, dimana produk yang mereka hasilkan adalah platform yang akan digunakan oleh developer untuk melakukan testing, deployment, dan operasi lainnya.

Mitos 6 — DevOps Hanya Berbicara tentang “Infrastructure as Code” atau Otomatisasi

Walaupun banyak hal di dalam DevOps yang membutuhkan otomatisasi, DevOps juga membutuhkan culture dan arsitektur yang baik, sehingga terbentuk shared goals di dalam organisasi tersebut.

“DevOps isn’t about automation, just as astronomy isn’t about telescopes.”

Chistopher Little

Mitos 7 — DevOps Hanya untuk Open Source Software

DevOps tidak bergantung pada teknologi yang digunakan. Walaupun banyak kisah sukses DevOps terjadi di sebuah organisasi yang menggunakan software open source, namun bukan berarti software close source tidak dapat menggunakan DevOps.